Rabu, 03 Februari 2010

dengar rujukKU

Sebuah Suara Menetes Menyambar Ego

Ego Yang Rapuh Selemah Bisunya Sang Embun

Namun Terlanjur Ku Tersesat Dalam Damainya Tawa Itu

Ada Yang Kian Berbisik

Sendu Kudengar Semakin Kakukan Hatiku

Suara Yang Tak Hanya Lemah

Tapi Sangat Melemahkan

Terlambat Sudah Rasa Ini Mengakuinya

Mungkin Makna Belum Menjadi Akhir Kisahku

Karena Semua Kata Tetap Kan Berlari Dengan Ceritanya

Suara-Suara Melenyapkan Bara Yang Membara Karena Tlah Terlanjur Lenyap


Setiap Maksud Yang Berhasil Terdefinisi Kan Membaur Bersama Senyuman Pagiku

Dunia Saja Tak Kan Tahu Akhirnya …

Jadi Biarkan Saja Aku Terus Bermain Di Pangkuan Khayal Yang Terbias


Salahkah Aku Yang Selalu Dan Terlalu Merujuk

Dalam Manisnya Kasih Sang ESA

Meraung Atau Mengaung Bukan Soal Yang Dipertanyakan

Banyak Yang Terselip Atau Sengaja Terlupakan

Terlewati Serdadu Kisah Keegoisan

Hanya Tuk Mencoba Berteriak Ku Bahagia


Sekali Iya Selamanya Kan Kupertahankan Tuk Selalu Tergenggam

Walau Tak Harus Melepas Akal Sehatku

Dan Walau Sampai Tetes Suara Ini Habis Terluka
Selengkapnya...

Senin, 09 November 2009

wAktU tAk BerAWal

Kumerenda Bahasa Kasih Yang Diajarkan Rintik Hujan Petang Ini

Penuh Dan Tak Tertebak

Sesekali Kutatap Alunannya Yang Menggelayut Pada Sang Awan

Sejenak Kutahu Datangnya Memegang Penuh Makna Sebuah Awal


Lirih Coba Kutiupkan Segala Pikirku Tuk Coba Mengerti Hawa Alam

Kali Ini Bukan Hanya Sejenak

Kuterpaku Pada Nyanyian Malam Yang Juga Mulai Berawal

Berawal Dari Rasa Sepi Setiap Hati Yang Menatap Penuh Harap


Sejenak Bahkan Berulang Kali Tetap Dan Selalu Kutemukan Arah Itu

Arah Sebuah Awal Yang Menawarkan Cahaya Cerita

Arah Sebuah Awal Yang Mengawali Sendunya Kisah

Arah Sebuah Awal Yang Mengakhiri Senandung Senja

Tapi Mengapa Tanyaku Tak Berawal

Resahku Tak Berawal

Galaukupun Tak Berawal

Begitu Juga Dengan Rinduku Untukmu

Bahkan Semua Itu Tak Pernah Berakhir


Mungkinkah Semuanya Bisa Berawal ?

Benarkah Yang Berawal Kan Berakhir ?

Bolehkah Aturan Dunia Selalu Berlaku ?

Mungkinkah Yang Tak Berawal Takkan Juga Berakhir ?

Seperti R.A.S.A.K.U. Yang Hanya Padamu

Yang Saat Inipun Sedang Memenuhi Aliran Melodi Jiwaku

Walau Tak Pernah Kutahu Arti Tatap Yang Menghantuiku

Meski Tak Pernah Kumau Terpendam Dalam Ganasnya Rinduku

Dan Walau…

Walau Kutahu Waktuku Tlah Usai


Seiring Waktu Yang Semakin Nyata

Kuakui Waktumu

Kusadari Waktuku

Waktumu Dan Waktuku Sirna Dibalik Senyuman Petang Itu

Dan Petang Inipun Semuanya Tetap Sama

Waktumu Tlah Usai Tuk Menjadikanmu Satu-Satunya Pengisi Akalku


Waktukupun Juga Tlah Usai Tuk Lagi-Lagi Menyalakan Cintamu

Ya,

Sebuah Petang Tlah Mengakhiri Segalanya
Selengkapnya...

Senin, 02 November 2009

Seberapa penting tulus tuk teman???

Ada kalanya semua terasa kosong tanpa TEMAN. Ada kalanya akal kita tak mampu penuh saat tak ada seseorang yang kita sebut TEMAN. Tapi ada-ada saja cerita hidup. Teman memang sering bikin hati kita berwarna, tapi saat dilema di depan mata, saat ada atau banyak sesuatu yang tertupi, kata teman menjadi sebuah lelucon di bagian otak ini. Sesuatu yang harusnya ada tuk meringankan bisa berubah menjadi pikiran yang menakutkan. Saat teman tak lagi percaya, saat teman dekat kita lebih nyaman dengan teman kita yang lain, saat banyak kekecewaan atas sikap seorang teman, saat semua yang kita hadapi harus lepas dari genggamannya, dan masih banyak saat2 yang lain, yang terus menggerus arti pertemanan itu sendiri...
Bagaimana sebenarnya menjaga pertemanan???

Kedekatan yang tak perlu harus berpikir..

Bagaimana bisa ada kebersamaan yang tanpa praduga? tanpa salah paham?

K-E-T-U-L-U-S-A-N

Sepertinya hanya itu yang menjadi kunci matinya. Mungkin memang tedengar alasan yang begitu klasik. Mudah diucapkan tapi sangat sulit dilakukan. Kadang ego yang bermain terlalu tak dewasa tuk sekedar bijak menilai arti tulus mengerti teman kita. Tapi saat separuh saja jiwa kita benar-benar bersih dan ikhlas memberi, ketulusan itu kan menjelma menjadi sosok malaikat yang kan menyelamatkan hatimu. Menyelamatkan dari hajaran pertanyaan2 yang mulai memusingkan tentang peran seorang teman...

Tuluslah dalam memberi..

Tuluslah dalam mengerti..dalam memahami..

Jangan hiraukan yang kau dapat..tak kan ada sesuatu yang sia2..

Pertemanan itu terlalu berharga tuk ditukar hanya dengan keterlibatan emosi yang tak bertanggungjawab..

So simple jika kita mau mengerti arti kesendirian tanpa hadirnya seorang teman"
Selengkapnya...

Minggu, 01 November 2009

Hati yang Terantuk

Pernah ngalamin yang namanya bingung...


g tahu harus ngapain, sulit diungkapkan tapi sangat terasa kuat merapuhkan nyali,

Bingung saat sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi, seakan dunia tak berpihak...

Melambungkan akal sesat yang membuat nyali kian menciut, tak ada tempat untuk bicara, tak ada kesempatan untuk membela, bahkan walau sekedar tuk mengehela nafas panjang.

Tak ada tempat. Tak ada waktu.

Mungkin ada benarnya, saat banyak pujangga mengungkapkan "kegetiran hidup bukan saat kita sendiri, tapi saat kita ingin berbagi namun tak ada orang di samping kita"

Hidup bukan untuk mengeluh. Mungkin seharusnya tak kan pernah ada kata BINGUNG jika kita mau membaca hati. Jauh dam masuk ke dalam lembutnya sang jiwa. Menebar dan terus menabur prinsip-prinsip ketulusan. Tapi manusia tetap kan jadi manusia, yang selalu merasa rapuh di bawah kuat terik tekanan dunia. Padahal sebenarnya tak ada yang mampu melemahkan hati dan pikikan saat kita mau POSITIV THINKING.
Selengkapnya...

rac